YOGYAKARTA: Pertumbuhan industri mikro kecil di wilayah DIY menurun selama triwulan ke-II da terjadi pada sub sektor makanan hingga mencapai 10,17%.
Badan Pusat Statistik (BPS) DIY mencatat pertumbuhan industri mikro turun 3,00% dibanding triwulan pertama tahun ini dan terendah terjadi pada sub sektor makanan hingga 10,17%.
Adapun dibanding triwulan II tahun lalu, pertumbuhan industri mikro tercatat turun hingga 8,81%. Sektor makanan menunjukan pertumbuhan negatif 10,1%.
Kabid Statistik Distribusi BPS DIY Haryono mengatakan untuk industri manufaktur besar dan sedang justru mengalami kenaikan 2,94% dibanding triwulan pertama 2012.
Pertumbuhan sektor ini, lanjutnya, di antaranya ditopang industri pakaian jadi yang tumbuh 2,94%. Namun sektor lain seperti industri makanan pertumbuhanya turun 5,99%, begitu juga industri tekstil turun hingga 7,57%.
Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) DIY Riyadi Ida Bagus mengatakan menurunya pertumbuhan industri mikro dipicu berkurangnya produksi akibat kenaikan harga kebutuhan pokok.
“Kalau harga kebutuhan pokok naik, otomatis belanja masyarakat lebih selektif, sehingga industri mikro ini turun produksinya,” ujarnya hari ini.
Selain faktor di dalam negeri, penurunan industri mikro ditengarai dipicu krisis ekonomi Eropa dan Amerika yang terjadi saat ini. Sejumlah industri seperti mebel dan kerajinan gerabah menurutnya sangat terpuruk lantaran pangsa pasar produknya kebanyakan diekspor ke Eropa dan Amerika.
Kondisi itu, dia menambahkan ke depan ekspor kerajinan DIY akan lebih diarahkan pada pasar Asia seperti China, Jepang, India dan Korea.
“Sebenarnya ekspor ke sana mengalami pengingkatan contoh Korea sudah US$12 juta dari total ekspor Jogja US$144 juta,” tuturnya.
Penurunan pertumbuhan industri mikro dikhawatirkan bakal berdampak secara luas karena sebagian besar ekonomi DIY bergantung pada sektor ini.
Menurutnya, saat ini sudah banyak industri mikro yang mengurangi tenaga kerjanya. (JIBI/Harian Jogja/bes/rsj)
