TEMANGGUNG-Petani tembakau di sentra produksi Jawa Tengah dipatikan bakal memetik keuntungan setelah sejumlah pabrik rokok besar sepakat akan menyerap dari hasil penen tahun ini dan aktivitas pembelian akan dilakukan Agustus mendatang.
Masa panen tembakau akan dimulai bulan depan hingga berakhir Oktober mendatang di sentra produksi tembakau mencakup Kabupaten Temanggung, Wonosobo, Magelang, Kendal, Boyolali dan Grobogan.
Kepala Seksi Perkebunan dan Agrobisnis Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan Kabupaten Temanggung, Gunarto mengatakan kalangan pabrikan rokok telah sepakat akan menyerap pembelian tembakau hasil panen tahun ini, terutama di Kabupaten Temanggung.
“Total permintaan tembakau dari sejumlah pabrik rokok (PR) di antaranya PT Djarum Kudus, PT Gudang Garam, PT Bentoel dan pabrik lainnya mencapai 18.500 ton,” ujarnya hari ini.
PT Djarum, lanjutnya, perusahaan rokok berbasis di Kudus itu telah menyepakati bersedia membeli tembakau 5.000 ton, sedangkan PT Gudang Garam Kediri akan membeli 7.500 ton, PT Bentoel 3.000 ton dan permintaan dari sejumlah pabrik rokok kecil mencapai 3.000 ton.
Menurut dia, selain itu sejumlah perusahaan besar itu juga bersedia menjalin kemitraan dalam budi daya tanaman tembakau dengan para petani di sentra produksi pada muism-musim tanam mendatang.
Dia mengatakan di lapangan kualitas tembakau produksi petani cukup bagus, sehingga jika tidak ada pembelian oleh pabrikan mereka akan mencemaskan bakal mengalami kerugian yang tidak sedikit, mengingat biaya tanam yang dikeluarkan cukup besar.
“Namun. setelah ada kesepakatan dari sejumlah pabrik rokok besar itu, petani dipastikan akan memetik keuntungan, meski mereka kini masih dibayangi kecemasan rencana pemerintah mengesahkan RPP yang melarang rokok kretek,” tuturnya.
Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Jateng Nurtantyo Wisnu Brata mengatakan sejumlah pabrik rokok besar dalam melakukan pembelian diminta bisa memerintahkan para grader-nya (kepanjangan pabrik dalam melakukan pembelian) dengan kelonggaran, tidak diperketat seperti musim panen tahun lalu.
PT Djarum misalnya, bisa memerintahkan para grader-nya di Temanggung agar dalam membeli tembakau tidak seketat tahun lalu dengan sistem jatah. Sebab, jika grader hanya dijatah melakukan pembeliana sebanyak 3.000-7.500 keranjang, total pembelian hanya mampu menyerap sebanyak 48.500 keranjang.
“Ini relatif kecil dibanding total tembakau hasil produksi pada musim tanam tahun ini,” ujarnya.
Dengan pola penjatahan tersebut para grader enggan untuk membuka gudang karena biaya operasionalnya tinggi, seperti pembayaran upah pekerja, perawatan gudang, pajak dan dana sosial untuk lingkungan.
Menurut dia, pihaknya juga meminta PT Djarum dalam membeli tembakau menggunakan hati nurani sehingga tembakau produksi petani yang kualitasnya sedang hendaknya dapat dibeli, mengingat hal seperti itu sudah dilakukan pabrik-pabrik rokok yang lain.
“Selain itu kami juga meminta harga tembakau kualitas terbaik tahun ini dapat dibeli dengan harga lebih tinggi dibanding sebelumnya,” tuturnya.
Dalam kemitraan yang disepakati juga disebutkan benih dan pupuk dapat dibantu PT Djarum guna meringankan beban petani dalam permodalan hingga tembakau yang dihasilkan mereka akan terjaga kualitas serta kemurniannya.
Menurut Kabag Safety dan Security PT Djarum Joko Heryanto, pihaknya akan membeli tembakau sesuai dengan komitmen awal sebanyak 5.000 ton dan jika rata-rata berat bersih per keranjang 30 kg maka PT Djarum bakal membeli sebanyak 150.000 keranjang.
“Bahkan bila tembakau petani kualitasnya bagus, pembelian akan ditambah dan pihaknya telah memerintahkan para grader untuk memberikan kelonggaran dalam membeli tembaku. Namun kelonggaran itu jangan sampai disalahgunakan,” ujarnya.
Sebelumnya petani sempat mencemaskan menjelang musim panen awal hasil panennya dikhawatirkan tidak terjual, akibat pabrikan rokok belum menunjukan aktivitas pembelian dan belum mengumumkan kepastian volume kebutuhan bahan baku produksinya. (rsj)
