Buy Cytotec
Buy xenical
buy singulair 10mg
Home
 

PETANI BAWANG: Petani bawang merah di Jateng bakal memetik keuntungan

Oleh on Sunday, 10 June 2012

BREBES:  Petani di sentra produksi bawang merah di Jawa Tengah bakal memetik keuntungan pada musim panen tahun ini, menyusul dukungan pemerintah mengisyaratkan tidak akan melakukan impor komoditas itu.

Keuntungan petani juga akan diperoleh dari kenaikkan harga yang diperkirakan bakal terjadi memasuki bulan puasa hingga usai Lebaran mendatang, seiring dengan meningkatnya permintaan konsumen untuk kebutuhan selama bulan Ramadhan itu.

Bupati Brebes Agung Widyantoro mengatakan di sentra produksi Kabupaten Brebes, Tegal dan Kendal musim panen bawang merah tahun ini, petani sudah tidak lagi mengkhawatirkan hasil panen mereka menumpuk tidak terjual, mengingat harga akan semakin membaik.

“Harga bawang merah musim panen tahun ini diperkirakan akan naik, karena bawang impor tidak akan membanjir lagi di pasaran seperti pada panen-panen sebelumnya,”  ujarnya usai mendampingi Menteri Pertanian (Mentan) Suswono yang melakukan dialog dengan ratusan petani petani di Desa Luwungragi, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes, akhir pekan lalu. (Sabtu 09/06)

Selain itu, lanjutnya, kebutuhan pasar juga bakal meningkat bersamaan dengan memasuki bulan puasa mendatang hingga Lebaran permintaan konsumen di berbagai kota besar terhadap komoditas itu cukup besar.

Di Jawa Tengah sentra produksi bawang merah mencakup Kabupaten Brebes, Tegal, Grobogan, Wonosobo,  Kendal, Temanggung, Demak dan Karanganyar. Propinsi ini merupakan pemasok bawang merah tertinggi untuk memenuhi kebutuhan nasional dengan produksi  rata-rata 8,24 ton per hektare dan terbesar dari wilayah Kabupaten Brebes dan Tegal

Menurut Nurhadi petani dari Desa Wangandalem, Kecamatan Brebes, panen tahun ini petani semakin yakin bakal meningkat, karena membaiknya mutu intensifikasi tanaman yang dilakukan para petani di daerahnya.

“Mutu intensifikasi meningkat karena pengolahan lahan, pemilihan bibit yang berkualitas, serta perawatan tanaman, pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) bawang merah terus dilakukan para petani, guna memperoleh hasil yang optimal,” tuturnya.

Sugito petani lain asal desa Kelampok, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes menuturkan bawang impor sudah tidak akan masuk lagi, jika pemerintah komitmen tidak akan melakukan impor komoditas itu guna melindungi para petani di daerah sentra produksi.

Bahkan pemerintah telah mengisyaratkan tidak melakukan impor bawang merah, karena kebutuhan bibit bagi petani pada musim tanam tahun ini dianggap sudah terpenuhi dari stok para penangkar bibit lokal.

Menteri Pertanian (Mentan) Suswono mengatakan saat ini pemerintah tidak perlu melakukan impor bawang merah, mengingat kebutuhan bibit bagi petani sudah terpenuhi dari stok para penangkar bibit lokal di berbagai daerah.

“Kebijakan saat ini tidak perlu impor, karena selain petani sudah melakukan tanam, kebutuhan bibit juga telah terpenuhi oleh stok sendiri dari penangkar bibit lokal,” ujarnya usai dialog dengan ratusan petani di desa itu akhor pekan lalu.

Dia mengatakan para penangkar bibit bawang lokal diharapkan bisa dioptimalkan, sehingga kebutuhan bibit petani bisa disuplai dari hasil mereka. Namun, lanjutnya, jika petani membutuhkan tambahan bibit impor dan itu betul-betul mendesak, tidak menjadi masalah impor bisa dilakukan lagi.

Suswono mengingatkan agar petani dapat menghitung cermat  kebutuhan bibit, sehingga diketahui jumlahnya benar-benar sesuai yang mereka perlukan.

“Yang terpenting, impor bisa dilakukan kalau itu memang terpaksa dan betul-betul keinginan petani, bukan pedagang. Tapi, saya lebih senang penangkat bibit lokal dioptimalkan untuk memenuhi kebutuhan petani lokal,” tuturnya.

Menurutnya, kebijakan melalui Peraturan Bupati Brebes mengenai Pengendalian Bawang Impor sudah sangat membantu untuk melindungi petani dari serbuan bawang impor yang masuk di wilayahnya.

Namun demikian, dia menambahkan upaya optimalisasi produksi harus terus dilakukan sehingga hasil panen petani mampu memenuhi kebutuhan sejumlah pasar di berbagai kota. Bahkan guna menunjang kebutuhan pupuk petani, ke depan pupuk bersubsidi tidak ada lagi merek tertentu. (rsj)

Comments are closed

BISNIS JATENG ONLINE

Perwakilan Bisnis Indonesia

               
© Copyright 2011 Bisnis Indonesia