Tidak banyak seseorang yang memiliki usaha sampingan menghasilkan pendapatan lebih dari pekerjaan utamanya bahkan mungkin saja usaha sampingan itu pun menjadi prioritas.
Andiva Reza mungkin salah satu pengusaha yang “beruntung”, bisa mengembangkan usaha sampingannya itu hingga besar. Dia menempatkan passion dan sifat pantang menyerah terhadap usahanya yang dirintis mulai awal tahun 2010.
Usaha yang kini menjadi prioritas merupakan bisnis sepatu anak, dimana sebelumnya dia memiliki usaha jasa pengiriman barang. “Walau kini saya fokus ke bisnis sepatu, namun tentu saja tidak akan meninggalkan usaha yang lama,” katanya.
Andiva menjelaskan usaha bisnis sepatu yang memiliki merek JD Kids ini terinspirasi dari minatnya terhadap fesyen. Nama JD Kids diambil dari nama anak Andiva, yaitu Jody. Awalnya, JD Kids mendesain sendiri sepatu-sepatu yang diproduksinya, namun kini mereka bermitra dengan desainer untuk produk sepatu mereka.
Fesyen menurutnya sudah merupakan bagian dari hidupnya terutama dengan model-model sepatu. Sejak remaja dia mengaku sangat menggandrungi model-model sepatu baik lokal maupun asing. Bahkan saat kuliah di salah satu perguruan tinggi di Bandung, dia sempat berwirausaha menjual sepatu-sepatu olahraga kepada teman-teman dan sanak saudaranya.
Selain fashion, inspirasi pun datang dari anaknya, bermula dari niat ingin memakaikan fesyen item yang unik bagi anaknya, Andiva mencoba membuat beragam jenis sepatu yang nge-pop. Bahkan mencoba merubah beberapa model sepatu dewasa yang ada di pasar.
“Saya mencoba merubah model sepatu dewasa menjadi versi mungilnya hanya untuk anak saya, namun teman-teman yang lain pun ingin anaknya ikut juga memakai, akhirnya saya serius untuk mengembangkan bisnis ini,” tuturnya.
Membidik pasar anak-anak usia 2 tahun hingga 8 tahun, JD Kids memfokuskan pemakaian warna-warna cerah dan eye catching pada model sepatu atau dengan konsep pop art. Namun, dia mengaku sasaran sebenarnya adalah cita rasa fesyen dari orang tua, karena biasanya orang tua yang memilih model.
Untuk pesaing sendiri, dia mengaku usahanya ini berada dalam jalur blue ocean strategy jadinya memang belum ada pesaing yang memiliki konsep dalam sepatu anak. Andiva mengatakan JD Kids mencari nilai-nilai, keuntungan-keuntungan, manfaat-manfaat yang bersumber dari pelanggan.
Sepatu-sepatu yang ditawarkan JD Kids ini terbuat dari bahan kanvas, suede dan kulit. Konsumen tak perlu khawatir mengenai kualitas dari sepatunya, karena sebelumnya, pihak JD Kids telah melakukan riset untuk sepatu sebelum diluncurkan ke pasaran.
Tiap mengeluarkan model sepatu terbaru, dia mengaku selalu berkonsultasi dengan dokter, baik dokter anak maupun dokter tulang. Dia menginginkan produk yang ditawarkan kepada pelanggan tidak berbahaya dan tidak mempengaruhi kesehatan dan perkembangan tubuh si anak.
“Kira-kira ada 10 anak yang kami survei selama 1 bulan untuk melihat reaksi si anak apakah dia nyaman memakai sepatu atau tidak, baru setelah proses panjang tadi kami keluarkan produk ke publik,” ujarnya.
Ditanya mengenai pemasaran, dia mengatakan awalnya JD Kids memasarkan sepatu ini dimulai dari mulut ke mulut. Kemudian berkembang dengan menitipkan di sejumlah toko yang berada di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Bali.
Pasar onlinenya pun tidak ketinggalan untuk dicoba, dia mengaku dari internet cakupan pemasaran pun kini menjadi luas, bahkan dari luar negeri pun ada yang memesan seperti dari Paris, Belanda, Jerman dan Singapura.
Untuk lebih mengenalkan lagi produknya kepada masyarakat, JD Kids pun tidak ketinggalan mengikuti event atau fashion show, baik yang digelar oleh pemerintah maupun swasta.
kendala
Dalam menjalankan suatu usaha pastinya tidak terlepas dengan kendala dalam berwirausaha, salah satunya adalah besaran modal yang dimiliki pemilik usaha. Dia mengatakan jumlah modal sempat menjadi penghalang dalam perkembangan usaha sepatunya ini. Namun, bukan pengusaha jika putus asa dengan kendala yang dihadapi.
Dia mengaku melakukan sebuah trik dagang dalam menjalankan usahanya terutama dalam besaran modal. Dia melakukan pinjaman dalam membeli bahan baku sepatu dari produsen, yang kemudian baru akan dibayar pada bulan 3. Hal ini terus diulang-ulang agar saat melakukan produksi selalu dengan jumlah yang besar, sehingga biaya produksi bisa ditekan. “Sampai saat ini belum pernah saya minjem ke bank untuk nambah modal, cukup dengan trik dagang ini saya sudah puas,” katanya.
Selain itu dari faktor SDM karyawannya, Andiva mengaku sedikit kewalahan dalam mengelola pegawainya terutama dalam pemeriksaan hasil sepatu yang dibuat. Kadang-kadang selalu ada kesalahan yang dibuat oleh pegawainya baik kerapihan hasil sepatu maupun desainnya, sehingga biaya pun jadi ikut bertambah.
Dia mengatakan saat ini memiliki karyawan 24 orang, dimana 8 diantaranya merupakan karyawan tetap dan sisanya merupakan pegawai outsourcing yang dipanggil apabila ada order besar.
Dia juga berharap dengan usaha sepatu ini dapat memberikan warna dalam fesyen sepatu yang inovatif dalam memenuhi kebutuhan masyarakat terutama anak-anak di Tanah Air. Lebih lanjut, dia juga meinginkan kedepannya usaha sepatu anak ini bisa lebih maju lagi dan menjadi brand image dalam benak masyarakat. (ringkang gumiwang/rsj)
