Oleh : Vega Aulia Pradipta
Pada 21 April barangkali kini bukan hanya akan kita ingat sebagai Hari Kartini semata. Pada tanggal itu pula, bangsa Indonesia akan mengingatnya sebagai hari kepergian Wamen ESDM Prof Dr Widjajono Partowidagdo, untuk selama-lamanya.
Semua orang pasti kaget. Tidak percaya. Merasa bagai mimpi. Kepergian beliau begitu cepat, tidak diantisipasi sebelumnya bahkan oleh keluarga almarhum sendiri. Aktivitas mendaki gunung yang seharusnya menyenangkan, berubah menjadi mengerikan setelah tersiar kabar bahwa Pak Wid, demikian beliau biasa disapa.
Beliau meninggal dunia saat sedang melakoni hobinya itu pada hari Sabtu, 21 April 2012 di Gunung Tambora, Nusa Tenggara Barat.
Namun kini kronologis meninggalnya sang Guru Besar Teknik Perminyakan ITB itu seolah tidak penting lagi. Satu hal yang semua orang tahu hanya ‘Pak Wid telah tiada’. Catatan resmi pemerintah menyebutkan beliau meninggal di RSUP Sanglah, Denpasar pada pukul 19.00 WITA, meski sebenarnya sejak Sabtu sorenya beliau sudah dideteksi tidak bernyawa.
Almarhum telah disemayamkan di taman pemakaman San Diego Hills, Karawang, pada Minggu pagi sekitar pukul 10.30 WIB.
Prosesi upacara pemakaman dipimpin langsung oleh Menteri ESDM Jero Wacik. Setelah almarhum Pak Wid dikuburkan, dalam membacakan sambutannya, Menteri ESDM sudah nampak berkaca-kaca.
Baginya, Pak Wid adalah sahabat sekaligus tangan kanannya dalam memimpin Kementerian ESDM.
“Beliau adalah tokoh yang bersahaja, gigih berfikir, berbicara dan berbuat untuk kemajuan bangsanya. Beliau kaya akan gagasan, selalu siap saya tugaskan ke mana pun dan kapan pun. Beliau adalah sosok yang cerdas, beliau tidak perlu menyiapkan data dan angka karena sudah banyak tersedia di otaknya sendiri,” ujarnya.
Selain itu, Pak Wid juga dikenal sebagai umat yang taat menjalankan perintah agama. Pak Wid sudah dikenal baik olehnya sejak menjalani perkuliahan di ITB. Wacik mengungkapkan tiga hari yang lalu, Pak Wid sempat pamit dan meminta izin kepadanya untuk mendaki Gunung Tambora.
“Tiga hari yang lalu almarhum minta izin kepada saya untuk mendaki Gunung Tambora, rupanya itu jalan Tuhan. Selamat jalan Mas Wid….,” ujarnya yang sempat diam sesaat dan tak kuasa menahan air matanya.
“Selamat beristirahat, kiranya Tuhan melapangkan jalan kepada Pak Wid, dan mendapat tempat yang layak di sisiNya. Kiranya Tuhan memberikan ketabahan kepada keluarga dan kepada semua keluarga besar ESDM. Selamat jalan Mas Wid….,” ujarnya lagi.
Seluruh jajaran eselon 1 Kementerian ESDM tampak hadir di San Diego Hills. Nampak juga Kepala BP Migas R. Priyono beserta beberapa deputi, anggota Dewan Energi Nasional, Direktur Gas Pertamina Hari Karyuliarto, beberapa eselon 2 ESDM, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, serta murid-murid almarhum.
Widjajono lahir di Magelang, 16 September 1951. Pak Wid merupakan anak ketiga dari pasangan Bapak Soeprapto Partowidagdo dan Ibu Watini. Pak Wid meninggalkan istri Ninasapti Triaswati dan seorang anak perempuan, Kristal Amalia (kelas 1 SMA) yang namanya itu merupakan akronim dari 7 nama gunung di dunia.
Jangan berlarut-larut
Susana haru jelas terasa pada pagi tadi di San Diego Hills. Istri dan anak almarhum nampak mencoba tegar atas kepergian Pak Wid. Seusai prosesi pemakaman, Menteri ESDM mengingatkan bahwa Pak Wid berpesan tiga hal. Pertama adalah penghematan BBM harus sukses, lalu BBM harus dikendalikan, dan energi baru terbarukan harus dipercepat.
Tentunya bangsa ini tidak boleh larut dalam kesedihan. Meski pedih, cita-cita Pak Wid harus kita teruskan. Masih jelas di ingatan kita ketika Pak Wid serius melaksanakan konversi dari BBM ke bahan bakar gas, saat mobil dinasnya dipasangi converter kit. Dia adalah wujud pejabat yang tidak hanya berucap saja, tapi benar-benar serius, paling tidak dimulai dari dirinya sendiri. Dia sadar bahwa posisinya sekarang adalah birokrat, yang harus memberikan contoh kepada masyarakat.
“Pak Wid sering pakai kendaraan umum ke mana-mana, bahkan setelah menjadi Wakil Menteri sekali pun. Itu sejalan dengan program pemerintah untuk menghemat BBM, yang selama ini disebutkan,” kenang Dewanto Prasetyo, kakak ipar almarhum.
Selain itu, masih jelas juga di ingatan kita saat Pak Wid mengusulkan adanya Premix, campuran antara Premium yang bersubsidi dan Pertamax yang nonsubsidi. Bahkan dia memperkirakan harganya harus di tengah-tengah, yakni sekitar Rp7.000 per liter. Dia juga mengusulkan agar mobil pribadi dengan cc mobil di atas 1.500 cc, agar diwajibkan menggunakan BBM nonsubsidi.
Cita-cita Pak Wid ini tentunya harus kita dorong. Perjuangan belum selesai. Pemerintah harus bisa betul-betul bersikap dalam menghadapi besarnya subsidi energi yang sudah sejak lama terus mengerogoti APBN kita. Sumber energi baru terbarukan harus bisa dipercepat eksekusinya, sehingga bangsa ini tidak lagi bergantung pada BBM.
Pak Wid adalah sosok yang sangat cerdas dan bersahaja. Sejak menjabat sebagai Wamen ESDM pada 19 Oktober 2011 lalu, praktis dia mengalami dunia baru : bertemu wartawan setiap hari dan harus siap menjadi narasumber. Untuk hal yang satu ini, dia terlihat sangat enjoy. Dia sering terlihat mewarnai layar kaca kita, bahkan sempat tampil di acara Bukan Empat Mata yang dibawakan oleh Tukul, demi mengkampanyekan ketika harga BBM harus dinaikkan.
Pak Wid senantiasa meluangkan waktunya untuk wartawan. Beliau juga mempersilakan wartawan yang ingin mewawancarainya agar langsung masuk ke ruangannya di Jalan Merdeka Selatan No.18. Tidak jarang, ia juga minta berfoto bersama wartawan dengan ‘tustel’ kesayangannya.
Jero Wacik menegaskan Presiden SBY belum mensinyalkan akan mencari orang baru untuk mengganti posisi almarhum sebagai Wamen ESDM. Pak Wid sebagai pribadi yang bersahaja, akan tetap memiliki tempat tersendiri di keluarga besar ESDM, maupun stakeholder dan para akademisi di sektor energi. Selamat jalan, Pak Wid.. (rsj)
