Buy Cytotec
Buy xenical
buy singulair 10mg
Home
 

Produksi padi Mentik Wangi menurun

Oleh on Saturday, 28 May 2011

MAGELANG: Produksi padi organik jenis Mentik Wangi yang diolah anggota Peguyuban Petani Lestari (P2L) Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, pascaerupsi Gunung Merapi turun dari lima ton menjadi dua ton per bulan.

“Sejak erupsi Merapi produksi mentik Wangi turun, ditambah dengan pengaruh musim yang tidak menentu,” kata Ketua P2L Kabupaten Magelang, Winarto, di Magelang, Sabtu ini.

Dia mengaku anggotanya kesulitan mendapatkan pasokan air untuk pertanian mereka terutama pasca erupsi Merapi.

Menurut dia mengatakan jumlah anggota peguyuban tersebut saat ini sekitar 60 kepala keluarga berasal dari sejumlah desa di Kecamaan Sawangan seperti Desa Mangunsari, Tirtosari, Gondowangi, dan Podosoko telah mengembangkan pertanian padi organik itu sejak 2003.

Mereka, katanya, secara ketat menerapkan pola organik, antara lain tanpa menggunakan bahan kimia sintetis selama memperlakukan tanaman dan kejujuran setiap anggota terhadap pengolahan pertanian itu untuk menjamin kualitas produksi dan kesetiaan para pelanggan.

Pelanggan mereka mencapai puluhan orang dan sejumlah agen, katanya, antara lain berasal dari Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Bogor, Palembang, dan Cirebon, serta Magelang.

Winarto mengatakan total kebutuhan pasar mereka bervariasi antara 10 ton hingga 20 ton per bulan. “Bahkan ada yang tetap rela menunggu pasokan meskipun cukup lama, karena kami tidak ingin memproduksi padi secara konvensional dan instan,” katanya.

Pada kesempatan itu ia menyatakan terpaksa tidak bisa menyebutkan harga jual beras Mentik Wangi per kilogram karena setiap agen di berbagai kota menerapkan harga secara bervariasi.

Tetapi, katanya, harga beras Mentik Wangi memang tinggi karena kualitasnya juga bisa diandalkan.

“Kami mendapat informasi dari agen seperti di Yogyakarta, bahwa keuntungan penjualannya untuk kepentingan sosial, sehingga wajar dan disadari oleh konsumen tentang harga tinggi itu, selain karena beras berkualitas, baik untuk kesehatan, dan ada kepentingan sosial,” katanya.

Di menjelaskan produksi gabah menggunakan cara organik dengan nonorganik relatif tidak berbeda yakni bisa sekitar lima kuintal untuk areal seluas 800 meter persegi.

“Bedanya kalau untuk organik pada penanaman berikutnya cenderung jumlah pupuk kandang dan biaya produksi berkurang, sedangkan nonorganik malah bertambah. Memang kalau pupuk kimia sintetis lebih praktis dari pada pupuk kandang,” katanya.

Masa tanam padi organik Mentik Wangi, katanya, antara 110-115 hari, sedangkan nonorganik 120-125 hari, nasi berasal dari beras jenis itu bisa bertahan hingga tiga hari, sedangkan nasi nonorganik satu hari.

Saat ini petani organik setempat menghadapi permintaan beras Mentik Wangi yang terus meningkat sedangkan stok tidak ada.

“Sebelum Merapi erupsi kami kewalahan memenuhi permintaan, apalagi setelah erupsi, sementara kecenderung petani ingin memproduksi secara instan. Kami tetap mempertahankan terminologi bertani tanpa bahan kimia sintetis,” katanya.

Seorang anggota P2L berasal dari Desa Mangunsari, Kecamatan Sawangan, Kabupaten, Sukoco, mengaku hingga saat ini dirinya tetap menanam padi Mentik Wangi dengan cara organik karena telah memiliki pasaran tetap dengan harga tinggi.

“Kami juga mengemas beras Mentik Wangi panenan sendiri dalam kemasan lima kilogram, dengan mencantumkan nama petani dan tanggal panen di kemasan sehingga mendekatkan hubungan petani dengan konsumen,” katanya. (Ant)

Comments are closed

BISNIS JATENG ONLINE

Perwakilan Bisnis Indonesia

               
© Copyright 2011 Bisnis Indonesia