Buy Cytotec
Buy xenical
buy singulair 10mg
Home
 

recovery Jepang peluang bagi ekspor kayu olahan Jateng

Oleh on Wednesday, 30 March 2011

SEMARANG: Pemulihan (recovery) pascabencana di Jepang bakal menjadi peluang ekspor Jateng, mengingat Negeri Matahari Terbit itu, membutuhkan banyak pasokan barang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, setelah sebelumnya beberapa wilayahnya rusak.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Dinperindag) Jateng Ihwan Sudrajat mengatakan ekspor Jateng ke Jepang diperkirakan akan mengalami percepatan pada dua hingga tiga bulan mendatang ketika Jepang mulai melakukan recovery.

“Dua sampai tiga bulan mendatang Jepang kemungkinan sudah mulai recovery. Pada saat itu, mereka membutuhkan banyak pasokan barang perlengkapan dari Jateng, termasuk kerajinan,” ujarnya, di sela Seminar Potensi UMKM dan Kerajinan Jateng, kemarin.

Ihwan menyebutkan salah satu produk buatan Jateng yang sangat dibutuhkan Jepang pada masa recovery adalah furnitur dan kayu olahan untuk lantai (flooring) rumah, dan peralatan rumah tangga yang selama cukup banyak diimpor Negeri Sakura itu.

“Sekarang permasalahnya, bagaimana kita mengambil peluang itu lebih cepat dari negera-negara tetangga pesaing, seperti Vietnam, Thailand dan Malaysia,” tuturnya.

Ketua Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Jateng Anggoro Ratmadiputro mengatakan bencana di Jepang tidak akan berpengaruh terhadap ekspor mebel Jateng, mengingat fokus ekspor selama ini ditujukan ke pasar Eropa dan Amerika.

“Pengaruh tidak banyak, dan pasar ekspor utama ke Amerika dan Eropa, Jepang hanya sekitar 5%-10% dari total nilai ekspor kayu dan barang dari kayu yang sebesar US$529,82 juta pada 2010. Kalaupun ada penurunan sampai 50%, jumlahnya tetap tidak signifikan,” kata Anggoro.

Menurut dia, Jepang selama ini lebih meminati desain mebel yang simpel, minimalis dan buatan pabrik, sebab rumah penduduk negara kepulauan itu memang sengaja dibuat sederhana tanpa banyak interior.

Nah, desain mebel yang simpel dan minimalis itu sebagian besar ada di Surabaya dan Jabodetabek. Adapun mebel Jateng lebih bersifat handmade, menggunakan kayu solid dan berukuran besar karena ditujukan untuk Eropa dan AS yang sebagian besar rumah warganya luas,” tuturnya.

Ekspor Tak Terganggu

Ihwan menambahkan secara keseluruhan ekspor Jateng ke Jepang belum mengalami gangguan sejak negara itu diguncang gempa dan tsunami pada 11 Maret lalu.

“Saya sudah kontak ke beberapa pengusaha. Sejauh ini belum ada keluhan. Ekspor tetap bisa berjalan karena pelabuhan di wilayah selatan Jepang tetap bisa beroperasi. Pelabuhan yang rusak itu kan ada di sebelah utara,” ujarnya.

Jepang selama ini menjadi salah satu pasar tradisional ekspor Jateng yang berada di urutan kedua setelah Amerika Serikat (AS), dengan nilai ekspor selama 2010 mencapai US$222,43 juta atau 5,75% dari total nilai ekspor Jateng ke berbagai negara.

Komoditas yang diekspor, di antaranyan produk tekstil, furnitur, hasil kerajinan tangan (handicraft), produk perikanan dan sayur-mayur.

Namun, pihaknya tidak memungkiri jika sejumlah industri manufaktur di Jateng mulai kesulitan memperoleh pasokan suku cadang dari Jepang, karena adanya hambatan pengiriman setelah sejumlah pelabuhan di pesisir timur Jepang kesulitan memperoleh pasokan listrik.

“Impor ini yang agak terhambat karena kita kan mengimpor juga dari Jepang. Mungkin ada keterlambatan karena pabrik di sana pasokan listriknya terganggu,” jelasnya.

Sebelumnya, Ketua Asosiasi Pengusaha Kawasan Berikat (APKB) Jateng Agus Sofyan menuturkan sejumlah perusahaan penanaman modal asing (PMA) Jepang mulai kesulitan memperoleh pasokan suku cadang yang selama ini sebagian diimpor dari Jepang.

Impor dari Jepang selama ini mengambil porsi sekitar 15%-20% dari total nilai impor mesin dan pesawat mekanik, barang dan perlengkapan listrik serta barang elektronik Jateng yang mencapai US$1.297,27 juta.

Comments are closed

BISNIS JATENG ONLINE

Perwakilan Bisnis Indonesia

               
© Copyright 2011 Bisnis Indonesia